Istimewa

Not For Sale

 Dipersembahkan oleh: Teater Belimbing (SMP Taruna Bangsa)

IMG_9279
Juara 1 Lomba Teater di SMPN 17  Tangerang Selatan 1 September 2014

Para Pelaku:
Setiti : Alifia Rima
Damai : Veronika Caecia Sekar Seruni R
Angkara : Ester Lita L. Tobing
Tanpa Nama : Maria Jeffina Setiawan
Sus Angelica : Nisrina Laily
Bu Rohma & Sosok Berjubah : Maharisti Fatikah Sari

Ditampilkan pada lomba Theater day SMPN 17 Tangsel

Naskah oleh : Rima Woro Sejati, 14 Agustus 2014

Musik mencekam, sedang terjadi transaksi antara dua orang dewasa. Di sebelahnya, duduk seorang gadis kecil, tertunduk gelisah, memainkan tangan, dan sesekali mengusap air mata yang tidak dapat dia bendung.

Musik mereda, perlahan terdengar percakapan mereka:

Lanjutkan membaca “Not For Sale”

Iklan

Menjelma Sunyi

Ruang ini, ramai sekali.
Riuh, seperti pasar burung.
Dingin pula.
Sampai menggigil.
Sampai merinding.
Bikin ingin mendidih.
Biar membara.

Diam-diam, dalam waktu.
Aku menjelma sunyi.
Hening.
Krik. Krik. Krik. Krik.
Bukan. Bukan jangkrik.
Tapi suara mesin AC.
Jernih.

Bagaikan asap tertiup angin,
Sunyi menyuruk, merasuk lewat pori-pori, orang-orang berseragam itu.

Kubiarkan menjadi hening.
Menjelma jelaga dalam jiwanya
Melekat, pekat. Hingga berjelaga.

Sepi.

Dongeng Sebelum Tidur

Suatu hari, setangkai mawar bercerita pada kunang-kunang.

“Aku jatuh cinta,”
“Nyata. Terasa sekali.”
“Terasa sekali aku benar-benar mencintai Bulan.”
“Jatuh. Cinta. Sayang.”  Kisahnya.

“Bergulung-gulung seperti ombak di lautan,
tidak pernah usai.
Kuat, pelan, sepoi-sepoi.
Di bawah temaram Bulan.
Iya. Itu cintaku sekarang.”
Lukisnya.

“Setiap cinta yang disinari Bulan, menjadi puisi.
Menjadi Rima.
Percaya.
Cinta.
Paham.

Sudah tidak takut lagi. Tidak kaku lagi.
Cinta yang melukis rima dalam ritme.
Cinta yang memberi,
Warna baru.
Gelombang baru.
Kehidupan baru.
Aroma baru.
Ruang baru.

Dan, jika aku mati nanti.
Serpihan kelopakku yang meluruh
Terbang kepada Bulan
Dan melekat kepadanya.”

Hujan, mengakhiri kisah bunga mawar.
Dan kunang-kunang berhenti berpijar,
Berlindung di antara kelopak mawar.

Hilang Fokus

Aku duduk.

Mau tidak mau, duduk manis.
Di depan sana, pas depan mataku,
Seorang anak berseragam sedang bicara.
Pidato.
Katanya, untuk pengambilan nilai praktik Bahasa Indonesia.

Di meja yang biru awan warnanya,
Aku melukis kata.
Ada remote AC.
Handphone.
Kertas-kertas teks pidato mereka.
Buku.
Tisu, bekas mengelap peluh yang tiba-tiba saja perutku terasa mulas.
Ada botol minum merah.
Dan, suara anak laki-laki sedang pidato.

Ngiiiiiiiiiiing, di telingaku.

Aku hilang fokus.

23/02/2016

Suka-suka Malam

Di sini gelap. Dalam kamar. Dingin dan sunyi.
Ada suara jangkrik bersahut-sahutan di luar rumah.
Tanda habis hujan.

Karena sekarang jamannya teknologi. Dalam gelap pun,
Puisi lahir merayap melalui sela-sela ibu jari.
Mengetik setiap huruf pada layar datar dalam genggaman tanganku.
Kulukis setiap kata dengan hasrat.
Dengan birahi. Dengan nafsu.

***
Yang ada hanya peluh.
Nafas tersengal.
Kosong.

Ngopi dan Rima

Ngopi, adalah kegiatan paling surga bagiku.
Dengan ngopi, aku ngobrol sama Tuhan.
Dengan ngopi, aku santai dengan Tuhan.
Dengan ngopi, aku belajar nempel, melekat sama Tuhan.
Ngopi, adalah kemerdekaanku.

Ketika aku ngopi, itulah saat di mana Rima punya waktu. Karena semua tahu, itu waktunya, waktu Rima. Bersama kopi. Tidak ada yg bisa melepasnya. Merekat.
Dan ketika ngopi, hanya Rima dan kopi.
Tidak ada yg bisa masuk ke dalamnya. Semua tahu itu.

Satu-satunya hal yg paling dihargainya. Yang masih dimaklumkannya. Yang masih tidak direnggutnya. Yang masih “ramah” baginya. Yang masih membuat Rima tetap tinggal:

Adalah Ngopi. Kopi dan Rima. Melekat merekat. Terkecap asam dan pahitnya. Yang dicintai Rima. Rima yang disayangi Tuhan. Rima yang nempel sama Tuhan, ketika Rima Ngopi.

Kamu

Pesonanya seperti dandelion
Yang tumbuh subur ketika kemarau.
Bukan sengaja dipetik untuk hiasan, dan ditanam untuk dipuji.

Tapi, begitu kuat melekat ke dasar jiwa ketika angin hembuskan bunga-bunganya yang rapuh kepada sunyi.
Masuk ke celah-celah retakan hati yang luka, bersembunyi di sana dalam diam. Suatu hari akan terus tumbuh menjadi harapan-harapan liar.

Hati-hati

Hati-hati!
Hatinya, hati dia,
Hatimu, hatiku,
Hati mereka.

Hati-hati!
Hati-hati, dengan hatinya.
Hati-hati, dengan hatimu.
Hati-hati, dengan hatiku.
Hati-hati, dengan mereka.

Hati-hati, dengan hati penuduh.
Hati-hati, dengan hati tertuduh.
Hati-hati, dengan penjilat.
Hati-hati, dengan prasangka.

Hati-hati, hatimu busuk, membiru, mati.
Terjebak dalam kotak beton berlabis rangka-rangka baja,
Penuh manipulasi dan basa-basi tipu muslihat.

Karena, merayap Iblis mengendap-endap,
Siap-siap memangsamu dalam filosofi kosong.
Mengubahmu menjadi pelahap Injil untuk kau mamah,
kemudian kau muntahkan bulat-bulat tanpa makna, tanpa hati.
:Edisi Bingung dalam Hati
(Serpong, 30092015)

Labirin

Satu panah menancap,
Pada jiwa nan kering.
Menusuk dalam, hingga tercurah darah menderas.
Begitu luka dan duka.
Hingga patah dan remuk,
Seluruh raga, ke dasar jiwa.

Arah langkah kaki yang sesat,
Bagaikan terjebak ke dalam labirin.
Penuh celah, tanpa petunjuk menuju pintu.
Limbung, linglung, berlari mencari.
Semakin Jauh, semakin sepi dan sunyi.

Waktu berputar, melompati Jaman.
Dalam kekosongan tanpa arti.
Terus berlari.

“Semua
Lara
Segala
Duka
Sia-Sia
Jika, bukan Aku yang kau cari”.

Bisik suara.
Waktu terhenti,
Diam.

Tuhan,
Engkaukah itu?

:Belajar menulis

(Serpong, 29092015)

Aku Ingin

Aku ingin menjadi angin,
Bagi perjalanan panjang hujan dan gerimis yang lelah.
Bagi embun yang tidur di selimut kabut,
Yang dipeluk jingga senja sehabis luruh bianglala.

Aku ingin menjadi angin,
Yang memuja hujan menderas, saat angin hempaskan rindu.
Bercinta di atas rumputnya yang mengembun dalam siluet kabut.
Deburnya angin tumpah ruah segala rindu.

Aku ingin menjadi angin,
Bagi telaga hatimu yang lelah, dengan sayap terkulai.
Tenggelam bersama arus, meski tanpa dasar, tanpa batas.

Aku ingin menjadi, denganmu.

:Belajar menulis
(23032009, 14.20)

Malam Terkutuk

Kembara hasrat saling menjejak.
Menapaki gunung hingga puncak, tumpaskan hening.
Menatah lembah dengan kecap kobar lidah api.
Hingga akal meleleh tercampur darah,
Ciptakan serotin,
Dengan rintih lirih tercekat.

Kembara hasrat.
Saling menjejak.
Teteskan butir-butir peluh, dari nafas yang menderu beradu.
Tempias rasa.
Dedahkan diam.
Di suatu malam dingin.

(Tangerang, 9 Desember 2008)

Luka itu Doa

Lirih terdengar isak.
Menyuruk barisan doa.
Di suatu kelam.

Bilur-bilur duka, mengemis kekuatan.
Hingga, tersingkap luka usang yang telah menebal.

Menderas darah dan air matanya.
Mencipta kata-kata lirih yang terangkai dalam doa.
Mengharap pulih, agar noda tak lagi merah.
Dalam sajak-sajak pilu.

(Tangerang, sebuah revisi 2002-2008)

Balada Petani Tua

Beras dari sebuah kekas.
Dalam tahun-tahun yang keriput.
Seperti wajahnya yang menciut,
Karena tua.

Sawah dari bajak tak terhitung.
Bergeming dalam puluhan abad.
Hanya gemerincing upeti,
Yang terdengar setiap panen.

Petani dari pagi buta, hingga senja menjemput.
Menanam peluh dan air mata.
Wujud tangan Tuhan,
Untuk perut pelahap.

Harga apa yang terbayar,
Dari setiap butir harapan.
Hanya kulit yang melegam, karena terik.
Dan tapak kaki yang keras mengapal.

Terbalas, dengan sawah yang mengeras.
Padi yang tumbuh menjadi gedung-gedung angkuh serakah.
Bulldozer, yang membajak hingga puing dan debu.

Petani yang semakin merunduk tak berdaya.

:Belajar menulis
(Tangerang, 10 September 2008)

Jiwa yang Mati

Tubuh siapakah yang teronggok di tepian laut,
Terombang-ambing dalam anyir,
dan aromanya, tersapu angin laut bersama asin yang bacin.

Filosofimu mendera gemuruh, hingga menggulung ombak dalam amuk, beradu.
Menyuntik mati jiwa nan tulus dan ranum,
hingga sakit menyayat pilu.

Tubuh siapakah yang terkungkung dalam omong kosong kata-kata,
Merajam hati bagai sembilu tak kenal ampun.

Kau torehkan luka dengan mantramu
Hingga membuih dalam telaga yang tercipta untuk membunuhnya.

Menghisap habis manisnya,
hingga tiada lagi sukacita.
Hanya kehampaan,
Patuh tanpa niat.
Taat tanpa cinta.
Kosong, kopong, jiwanya mati kering dan gersang.

:Belajar menulis
(Tangerang, 070509)

Balada Cinta

Akhirnya cinta itu menemukan muaranya.
Luas tak berbatas
Dalam tak berdasar.

Lukanya malah menguatkan setiap bilur yang menganga
Menjadikannya nyanyian hati nan panjang tanpa jeda.

Gembira dia menemukan dirinya
Terapung-apung dibelai ombak yang menghempas raga
Dalam rindu abadi.

Dibiarkan semua rasa segala cinta membuih menjadi kawan bagi batu karang,
kala laut sedang surut.

Menyatu ikhlas.

20.06.15

Aku adalah Debu

36558_274240655998979_1849378675_n

Aku hanyalah segenggam debu,
sebelum Kau hembuskan kehidupan.
Aku hanyalah sebaris asa,
sebelum Kau bentuk dalam kerahiman.
Aku hanyalah segumpal darah,
sebelum Kau gores sebuah nama.
Aku hanyalah sampah,
sebelum Kau pungut dari kubangan.
Aku hanyalah satu
dari jutaan manusia yang tak saling kenal.
Aku hanyalah aku
yang rindu Kau peluk.

:Belajar menulis
(Tangerang, 051010)

 

 

 

 

Nostalgia

Kala itu,  aku masih abu-abu
Ku kenal kau sebagai puisi yang tak bertinta
Hanya bunyi-bunyian, langkah gontai kaki yang kau tapaki di setiap koridor sekolah.

Ku amati kau hingga waktu meluruh.
Terus membisu hingga meradang

530735_353992798023764_868580865_n

Seringkali kubayangkan kau bagai kopi pagi hari,
Yang selalu memenuhi aku bagai cangkir

Tetap saja tak kuasa ketika berada di hadapmu.
Bagai pena menorehkan tinta di langit, mustahil.

Sesekali, hanya berani sembunyi-sembunyi
mengintip dari balik pintu kelas.

Hidup terus berjalan,
Seperti siang dan malam,
Silih berganti.

Sampai suatu hari,
Kutemukan nama dari barisan kata.
Sebuah nama, bersama belahan jiwamu.
Dan langkah gontai telah berganti derap kaki. Tegap dan gagah.

Hatiku tiba-tiba basah oleh nyanyian hujan yang diam-diam mengembun dalam senandung sajak

Belajar menulis.
Nusa Indah, 11April 2014

Candu

malam

Ada Hati yang Rindu
Dalam jelaga malam
bersama angin berselimut sepi.

Ada hati yang rindu
Sendiri dalam luka
Yang setiap goresannya menyerap butiran rindu.

Bagai morfin, kau menjadi candu baginya.

Di setiap hela nafas,
Di setiap bingkai pikirannya,
Kau muncul bagai sajak.
Mengalir seperti huruf

Yang meluncur bebas dalam otak membentuk kata rindu
Kau adalah kekasih baginya
Yang tak bisa direngkuh dalam raga

:Belajar menulis
Tangerang,  14 Juni 2014

Satu Bab Saja

Titik-titik dosa dalam kisah sepanjang masa,
tak lekang terbawa napas.

Meski kembali ke titik nol,
tak menyangka sewaktu-waktu,
terkenang menjadi lara atau aib.

sunyi2
 

 

 

***

Cerita sebuah perjalanan manusia
Yang tak mungkin pernah sempurna.
Menjadi rahasia tersimpan lekat dalam darah.

Biarlah menjadi rasa, di satu bab kehidupan
Entah itu pahit atau manis
Hanya dia yang tahu.

(Tangerang, 010910)

 

Kasihmu adalah Kebahagiaanku

Apakah harga sebuah kebahagiaan
Dari anyirnya kusta pada tubuhku.
Terkulai lemah di perhentian lampu merah, dengan kepala dan tangan tertadah
Mengiba penuh asa dalam hati yang patah.

Apakah harga sebuah kebahagiaan
Dari tulang-tulang yang gemeretak gigil membeku dalam dingin
Telanjang, tanpa sehelai kain memeluk tubuhku.

Iri hatiku pada tatap yang begitu angkuh
Karna indah kain yang memeluknya.

Kapan kau lawat aku, tuk bagikan kebahagiaanmu
Sekadar hangatkan hatiku yang remuk.

Apakah harga sebuah kebahagiaan bagimu
Hingga kau rela menjual harga dirimu sendiri dan lupakan aku?

Aku lahir di tempat terbuang, tak berharga, tak berarti, tersisihkan, bergelimang dosa.

Adakah hatimu tersentuh membagi kasih?
Melupakan kesemuan hidup yang kau kejar untuk dirimu sendiri.
Memberikanku pakaian
Melawatku ketika sakit
Memberikanku tumpangan untuk berteduh.

Karna harga sebuah kebahagiaan, adalah kerelaan dirimu untuk Saudaramu yang terbuang dan terlupakan.

Panti Asuhan Bhakti Luhur Perum Sinar Pamulang Permai 4/10/2013
Panti Asuhan Bhakti Luhur
Perum Sinar Pamulang Permai
4/10/2013

(Tangerang, 14-12-2009)
*RWS*

Sebuah Penebusan

Salib itu mengucur darah
Ketika lupa memagut
Salib itu mengucur darah
Ketika geming dalam tuli

salib

 

Salib itu mengucur darah
Ketika Lena dalam Fana
Salib itu mengucur darah
Ketika pandang memudar yang terbuang

 

 

Salib itu mengucur darah
Ketika selusin ocehan menjejakkan luka
di setiap ruang

Salib itu mengucur darah
Tubuh itu mengucur darah
Lahirkan pertobatan
Mengoyak kepalsuan
Menebus jiwa,
dalam salib yang mengucur darah

:Belajar menulis
Matraman, 2008

(Terinspirasi dari puisi Chairil Anwar “Isa-Kepada Nasrani Sejati”) Untuk Paskah April 2015

Di Sudut Jalan

Lantunan doa yang terdengar lirih

dari sela-sela hujan.

Setiap rintiknya patah menyentuh tanah

menjadi tunas-tunas penderitaan.

 

55-puisi---sekilas-tangisan-216

 

Di sudut jalan, ia tergeletak.

Tercium aroma kehancuran dan dendam.

Tubuhnya lunglai, penuh luka dan kengerian.

Tidak lagi bening parasnya.

hanya terbungkus lebam memar yang menghitam

Dan borok yang membusuk di sekujur tubuhnya.

 

“Aku anak jadah yang dibuang bersama kebencian dan kemarahan!”

Lanjutkan membaca “Di Sudut Jalan”